Sejarah Maenpo Cikalong (2)

March 23, 2008 § Leave a comment

Setelah berguru Bang Ma’ruf, Rd. H. Ibrahim berguru ke Bang Madi. Pertemuan antara Guru dan Murid sendiri berlangsung secara tidak terduga. Untuk pertemuan ini, di beberapa komunitas Maenpo di Sunda lagi-lagi ada beberapa versi.

Versi 1. Pertemuan dengan Bang Madi

Menurut versi ini, Bang Ma’ruf dan Bang Madi adalah tetangga dan juga rekan dalam berjualan kuda. Di masa itu berjualan kuda adalah sebuah pekerjaan yang terhormat dan juga sangat menguntungkan. Asal dari Bang Madi sendiri diketahui sebagai orang asli Batavia (Pernyataan Bang Madi ketika berdialog dengan Rd. H. Ibrahim).

Suatu hari, ketika Rd. H. Ibrahim lagi berlatih Maenpo bersama Bang Ma’ruf, datanglah Bang Madi karena suatu urusan. Dan karena Bang Ma’ruf menganggap Bang Madi adalah sobat dekatnya, maka latihanpun tidak dihentikan. Mereka berlatih sampai beres. Besoknya, Rd. H. Ibrahim pun bertanya ke Bang Ma’ruf tentang orang yang tadi malam menonton latihan. Bang Ma’ruf menjelaskan bahwa itu adalah Bang Madi, rekannya dalam berjualan kuda. Kebetulan saat itu Rd. H. Ibrahim memang membutuhkan kuda dalam jumlah yang cukup banyak untuk dibawa ke Cianjur, akhirnya beberapa hari kemudian beliaupun menemui Bang Madi di rumahnya.

Ketika bertamu itulah Bang Madi memuji Maenpo Rd. H. Ibrahim, dan Rd. H. Ibrahim pun menjadi heran dan sangat tertarik, karena pujian Bang Madi bukan asal ngomong, melainkan juga sedikit menyinggung soal tehnik. Walaupun begitu beliau belum betul-betul menyadari kalau Bang Madi adalah seorang jawara. Dengan sedikit memaksa akhirnya Rd. H. Ibrahim berhasil mengajak Bang Madi untuk mengadu tangan (“nempelkeun leungeun” = istilah Maenpo dahulu untuk mengadu jurus).

Bang Madi menyanggupinya dan bertanya, siapa yang akan mengambil kuda-kuda duluan (“mengambil kuda-kuda” berarti di sini posisi bertahan, berkuda-kuda siap untuk diserang). Rd. H. Ibrahim meminta Bang Madi untuk mengambil kuda-kuda, dan Bang Madi pun mengambil kuda-kuda sambil berkata:”Silakan Raden, inilah kuda-kuda Macan Turun dari Udik“. Rd. H. Ibrahim pun menyerang dengan cepat, tetapi dengan mudah serangannya bisa diblok dan diapun bisa dibanting sampai jatuh berguling-guling.

Rd. H. Ibrahim mulai menyadari keahlian Bang Madi, dan akhirnya dia meminta Bang Madi yang menyerang dan dia yang mengambil kuda-kuda. Setelah Rd. H. Ibrahim mengambil kuda-kuda, secepat itu juga Bang Madi sudah menyerang dan menyebabkan Rd. H. Ibrahim jatuh terjengkang.

Begitu terus berulang-ulang, silih berganti saling menyerang dan mengambil kuda-kuda. Sampai Rd. H. Ibrahim sendiri kehabisan tenaga dan berkata:”Saya mengaku kalah dan mulai saat ini mengakui Abang sebagai Guru”.

——————————-

Disadur dari tulisan Kang Mpay, yang pernah menuliskan-nya di forum kaskus.us

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sejarah Maenpo Cikalong (2) at eureka....!!!.

meta

%d bloggers like this: